Sabtu, 19 Maret 2016

Cerpen: Aku dan Ibuku

AKU DAN IBUKU
Aku tak pernah ingat lagi entah sejak kapan mulai akrab degan jalanan.  Tak heran bila anak-anak lain sibuk dengan pelajarannya di sekolah sementara aku sudah terbiasa dengan rokok ataupun minuman keras. Entah mendapatkannya dengan cara meminta, mengamen atau bahkan mencuri. Dunia begitu menyesakkan, pedih, dan sadis. Mau tidak mau aku harus bertahan dengan cara apapun untuk menyokong hidupku. Kelahiranku tidak diinginkan oleh ibuku. Akupun tak pernah tahu siapa yang menanamkan benih ke rahim ibuku. Wajar saja aku tak pernah mencicipi apa yang disebut kasih sayang. Ibuku hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Dia bukan sosok yang harus dihormati. Dia sangat menikmati berada di lembah prostitusi. Pekerjaan yang telah digelutinya sejak lama. Entah berapa banyak lelaki yang menjamah tubuhnya. Dan aku tak ingin tahu.Gunjingan orang-orang tentang aku dan ibuku sudah menjadi makananku sehari-hari. Ah! Peduli apa aku. Aku tidak inginmendramatisasi hidupku.
Suatu hari, tepatnya sabtu malam aku pulang ke rumah. Aku menggedor pintu. Lalu dibalik pintu itu terlihat ibuku dengan wajah kusut tanpa bedak dan gincu yang mendempul wajahnya. Biasanya jam segini dia telah siap memarkir tubuhnya pada laki-laki nakal. Malam ini dia hanya mengenakan daster, dan rambutnya di cepol acak-acakan Akupun masuk rumah lalu menghempaskan letihku di atas kursi kayu setelah seharian bergumul dengan debu dan asap jalanan. Aku melihat tatapan dingin ibuku dari sudut matanya yang lancip itu. Tiba-tiba saja dia memelukku erat, namun aku segera melepaskan pelukannya. Aku tak ingin lama-lama terhanyut dalam dekapan wanita itu. 
Akhirnya kamu pulang nak” Ibuku memulai percakapan.Baru kali ini kulihat dia mengumbar senyum tulusnya. Dengan acuh tak acuh aku bangkit dari kursi lalu kulemparkan pandanganku ke luar jendela. Pertanyaan ibuku sedikit tak ku gubris. Tapi karena terpaksa aku menjawab saja sekenaku.
“Malam ini tiba-tiba aku ingin merasakan tidur di kasur” Sambil melihat ke arah ibuku dengan senyum yang sinis. 
“Biasanya saat aku pulang, Ibu sudah tidak ada di rumah?Sindirku.
Ibuku hanya diam. Tak ada respon yang keluar dari mulutnya. Kulihat wajahnya begitu pucat di bawah sorotan cahaya lampu. Malam yang begitu pekat. Tiba-tiba aku merasa kasihan padanya. Ah perasaan apa ini. Bukankah selama ini aku selalu mengabaikannya? Aku membencinya meskipun dia pernah meminta maaf padaku karena telah mencampakkanku. Rasa sakit yang sudah menusuk hatiku begitu telak membuat aku tak sudi menerima permintaan maafnya. Bahkan aku tak ingin menganggapnya sebagai Ibuku. Seharusnya aku tak pulang ke rumah. Tapi entahlah, malam ini seperti ada sesuatu yang menarikku pulang. Dalam heningku aku menelanjangi seluruh isi rumah. Tak ada yang berubah. Tatapanku kembali berhenti pada sosok ibuku. Sekarang dia duduk di kursi dan masih saja khusyuk dengan diamnya. Aku penat dengan sepi yang terus saja menyengat. 
Sebenarnya aku telah berusaha melupakan catatan buruk ibuku. Tapi semua itu malah membuat beban dalam hatiku semakin bertambah. Ibuku seorang pelacur, sementara aku anaknya yang selama ini hidupnya di jalanan. Diam-diam aku kagum dengan semangat ibuku yang tak pernah lekang. Mungkin jiwa itulah yang melekat dalam tubuhku yang telah dialiri darah dagingnya.  Meskipun dia seorang pelacur, dia wanita yang tak pernah menyerah. Lupakan saja! Aku tak lagi menangisi nasib ini!
Malam semakin pekat, namun tak ada perbincangan antara aku dan ibuTanpa sepatah kata ibuku lalu beranjak dari kursi menuju kamarnya. 
“Ibu sedang sakit?” Pertanyaan itu spontan keluar dari mulutku. 
Ibu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku. Matanya begitu cekung. Wajahnya semakin pucat seperti kehabisan darah. Bibirnya agak kebiruanAda sorotan kesedihan dibalik wajahnya. Kulihat air matanya bergulir membasahi pipinya. Air mata itu memendar perasaanku. Duka apakah yang sedang dialaminya? Bukankah ibu sudah merasa bahagia dengan hidupnya? Suasana mulai kosong lagi. Air mata ibu berhenti merembes. Tinggalah aku yang masih berdiri dengan kebingungan dan masih bertahan dengan sikap acuhku. Karena tak ada respon dariku, ibu akhirnya membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju kamar. Dalam sekejap dia telah lenyap dalam pandangan mataku. Ibu! Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Sikap acuhku membuat aku semakin penasaran. Aku tak bisa berhenti berpikir. Semakin aku membenci ibu semakin dalam rasa keingintahuanku padanya. Lagi-lagi aku merasakan kengerian., miris yang membuncah. 
Sore itu senja merambat lambat. Aku masih ingin di rumah beberapa hari lagi. Mungkin ini untuk terakhir kalinya aku pulang ke rumah. Tekadku sudah bulat untuk pergi jauh meninggalkan ibu. Sejak siang tadi aku tak melihat ibu keluar dari kamarnya. Namun pagi tadi aku masih sempat melihatnya menyiapkan sarapan untukku meskipun tak kusentuh. Aku tak berselera makan. Makanan-makanan itu sekedar menjadi penghias meja makan. Kenapa baru kali ini dia begitu memperhatikanku? Selama ini aku tak pernah merasakan hangat tangan dan dekapannya. Dia terlalu asik dengan dunianya hingga aku tak pernah diperhatikan. Pada dasarnya dia memberikan kesenangan sesaat padaku. dia memberikan semua yang aku butuhkan. Tapi sebenarnya aku hanya butuh kasih sayang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk hidup di jalanan. 
Kemanakah ibu? Sampai sekarang dia tak tampak di pelupuk mataku. Aku yang sedari tadi tidak beranjak kemana-mana mulai melangkahkan kaki menuju dapur. Tak kudapati ibu di sana. Karena seharian belum menyeruput kopi, aku menyalakan kompor dan mendidihkan air. Segelas kopi siap untuk kunikmati. Kubawa ke ruang tamu. Saat aku melewati kamar ibu, aku merasa penasaran. Kamarnya tertutup. Akankah ibu di dalam sana. Atau mungkin dia sedang kewalahan melayani laki-laki hidung belang? Tapi sejauh ini aku tak melihat ada tamu datang ke rumah. Atau mungkin tadi saat aku masih di kamar, tamu itu diam-diam menuju kamar ibuku? Atau bisa jadi tamu itu sudah terbiasa kesini lalu dengan seenaknya saja dia masuk rumah tanpa permisi? Ratusan pertanyaan mengambang di benakku.Kuacuhkan pertanyaan-pertanyaan itu dan aku memulai menyeruput kopi dan menyulut rokok.
Kuberanikan diri mengetuk pintu kamar ibuku. Terkutuk saja, mengapa aku begitu khawatir. Terang saja aku sangat menyesal mengapa darah wanita itu harus mengalir ke tubuhku. mengapa aku harus menjadi bagian darinya. 
“Ibu di dalam kamar?” ku ketuk pintu berkali-kali namun tak ada sahutan. Perlahan-lahan ku sentuh pegangan pintu. Ternyata tidak terkunci. Tampaklah ibu sedang berbaring. Wajahnya lebih pucat dari semalam. Bibirnya semakin membiru. Ada rasa iba yang sangat dalam menyeruak hatiku. Aku sepertinya tidak tega bila harus meninggalkan dan membiarkannya dalam keadaan seperti ini. Kudekati dia dan duduk disebelah tempat tidurnya. Ibu seperti sedang sakit parah. Selama ini dia hidup sendirianSementara malam mulai menilik ranting-ranting pepohonan di luar sana. Dari kaca jendela terlihat dengan jelas gelap yang mengantar orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing. 
“Ibu sebaiknya aku bawa ke dokter saja” 
“Tidak perlu anakku. Ibu sudah terbiasa dengan ini. Sebentar lagi pasti sembuh” Ibuku menolak ajakanku. 
Lalu selama ibu sakit, laki-laki hidung belang itu masih mau membeli ibu? Ucapku dengan kasar karena rasa dongkolku yang tidak bisa kutahan.
Ibu tidak menjawab. Dia menghela napas panjang. Ibu kembali menggulirkan air matanya. Entah menahan sakit atau sedih karena kata-kataku yang telah menghujamnya. Pada kenyataannya dia memang seorang pelacur. Untuk apa dia sakit hati. Aku kira dia bukanlah orang yang lemah. Kulihat air matanya terus bergulir. Dia kembali menarik napas panjang.
“Ibu sudah lama meninggalkan pekerjaan itu nak. Semenjak kau pergi dari rumah hati ibu seperti tercabik-cabik. Ibu kehilangan bagian dari hidup ibu nak. Ibu sadar, bahwa merawatmu dengan cara baik-baik itu lebih penting daripada mengutamakan kebutuhan pribadi ibu sendiri dengan terus terjebak di ladang prostitusi itu”  Dia kembali terisak lalu meneruskan kalimatnya.
“Mungkin inilah balasan buat ibu atas dosa-dosa yang ibu lakukan selama ini”
Tulangku seperti berhasil diloloskan dari tubuhnya. Aku lemas terkulai mendengar penuturan ibu. Aku menyesal selama ini terlalu menyalahkannya. Tekadku meninggalkan ibu akhirnya retak hanya menyisakan puing-puing yang tak dapat disatukan kembali. Bulir-bulir air mataku mengembang jatuh menyusur di tubuh ibu. Aku mendekapnya erat, namun tak ada respon sedikitpun dari ibu. Aku semakin takut. Ku periksa detak jantungnya, nadinya.
Semua sudah terlambat. Naluri seorang ibu kepada anaknya tidak pernah dapat berubah. Mungkin aku terlalu muda untuk memahami apa yang ibu ingin persembahkan kepadaku. Aku hanya mampu memahami sisi gelap dari ibuku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar