Selasa, 16 Februari 2016

Rindu Kita Pergi

aku mengukir samudera sunyi dengan tinta air mata
apa yang kekal selain perpisahan dan kesunyian puisi?
maka rindu serupa bencana yang tak mungkin menemukan perih sesal
untuk dikabarkan kepada matahari yang pernah mengekalkan ayat-ayat masa lalu kita
yang bahagianya selalu dicemburui angin

rindu yang menggumpal karena baitnya sudah lelah, hilang dimakan waktu
entah berapa lama puisi ini ditelan kesunyian karena perihnya rindu-rindu
waktu menghunus dan menikam segala yang kueja
aku tergeletak menyusun darah
dan sebaris senyummu yang kekal lebih perih

aku sudah lama mati
kuburanku adalah narasi panjang matamu
kembalikan aku dari rinduku yang lemah
aku tertatih menuju barisan perih dan tak mampu mengambilmu kembali
karena aku sudah mati di ujung pengasingan

kau adalah sekumpulan memoir yang bergelut dibalik tangis kerinduan
dan kau adalah sepenggal do'a yang masih belum atau akan terjamah
Ibu

aku ingin kembali mencuci air matamu ibu
tapi disakuku hanya ada dosa
pelajaran dan buku-buku tak sempat mengajarkanku cara menyesal
kecuali menghakimi kehidupan
ibu
aku ingin kembali tanpa mengotori air matamu
kini aq hanya sesosok mahluk kecil yang berjelaga di ujung sumpah serapah mereka
tak kan habis luka yang mengapur ini mengapung di atas laut keresahan
bukan apa yang aku inginkan
tapi bagaimana aku bisa menyauh raga ini untuk kembali pada sujudmu ibu


Sejak senja itu datang, aq mulai paham bahwa kau cemburu pada rindu yang pekat
rindu yang dinamai "jancok"!

Senin, 15 Februari 2016

Aku Ingin Abadi

Aku ingin abadi
hingga puisimu tak pernah tuntas untuk dijelaskan
karena kau adalah waktu yang memar
yang hilang berlalu
yang mati di bibir nasib