Kamis, 04 Agustus 2016

Alienasi

Gelap masih setia merunduk pada pangkal keramaian
makin diam, makin khusyuk pada sembahyangnya
pada ujung pengasingan aku tak mampu lagi menjamah tanganmu
jalanan sepi yang terus menghujatku menggores sisa-sisa luka kemarin
mimpi, cinta, mereka, bahkan dunia sudah tak mengenalku

dari ribuan musim pengembaraanku
hujan adalah barisan air mata
matahari terbit dari ufuk lukaku dan padam di akhir tangisku
dan kau berdiri menyanyikan lagu "Penjara"

sementara aku sudah hampir roboh mengejar penggalan-penggalan hidup
tangisanku abai
jatuh menjadi bulir-bulir duka yang merinai

di ruang ini sudah terkubur ribuan matamu
puisi-puisi yang tak berhasrat mencumbui air mataku
seperti biasa, pada senja yang papa
aku bersalam cemas pada ngilu malam yang selalu mengasingkan
kubakar dupandan do'a dengan bara rindu yang hening
adakah yang kasihan pada kepulangan yang purnama?
tuhanpun takkan menunjukkannya padaku
pada sunyi aku mengusap air mata

Kamis, 24 Maret 2016

Escape

Meskipun aku memungkirinya, aku tak punya pilihan lain. semua keadaan dan keputusan yang aku ambil tak ada yang tidak beresiko. aku sadar dengan apa yang sedang aku pilih. aku terjebak dalam ruang yang aku ciptakan. semua yang telah aku gagas terampas menjadi pas. Aku memilihnya bukan untuk membuatku tertikam tanpa kompromi. aku sadar ketika kakiku kupaksa berjalan dengan cepat, akupun sulit untuk mencari jeda. umurku sudah tak terprediksi lagi. bayangan itu semakkn jelas, dan di satu sisi semakin kabur.
masih mungkin aku terdeteksi dengan semua yang telah aku rombak. bukan hanya harga diri yang telah tergadai. semua yang menjadi jati diriku telah aku urai menjadi nasi yang basi. semua serba menjijikkan, semua serba termafikan. kutatap cermin yang memantul hanya slide-slide yang kemudian berubah menjadi fatamorgana yang kejam, siapa dirikundan bagaimana diriku yang dulu, kini telah aku patri menjadi sebuah nama "Ran". panggilah aku dengan nama itu! atau aku akan memaksa kalian memanggilku dengan nama itu. agar semua orang tahu bahwa jati diriku telah terburai. akulah seonggok bangkainyang memilih untuk mengepakkan sayap cacatku memjadi selalu berkembang.
Pagi yang menakjubkan, meski tanpa sebuah whisky yang biasa aku teguk, aku mampu menyadari bahwa hari ini menjadi sangat berarti bila aku berdiri. bayangkan jika hanya dengan berdiri aku mampu berpikir bagaimana hidup ini teris berlanjut tanpa kita tahu di mana dan kemana kita akan bermuara. bagaimana liku ini akan terhenti dan bagaimana jemari tak mampu lagi meracuni. lekuk tubuh itu terus dan terus membayang, desahannya selalu mengiang, akankah lagi ini terus menjadi pemacu hasrat yang indah, atau justru sebaliknya akan menjadi pagi yang menyeramkan untuk bermasturbasi.
manusia tak pernah luput dari kelupaannya. Rapi aku begitu mudah tergiur dengan gepokan rupiah yang membuat aku lupa arti sebuah nurani. atas dasar apa aku melakukan kejahatan ini, aku masih meraba-raba. seperti halnya semua berakhir pada kenisbian, semua apologi yang terarsir membuat semua yang kulakukan mutlak pada sebuah kebenaran. beribu dalih telah aku benturkan pada paradigma yang begitu mulia busuknya. aku tak ingin berkata bahwa semua yang kulakukan hanya bertendensi pada sebuah kelaziman akan kompromi terhadap sifat lupa. aku sadar melakukannya, dengan spekulasi yang tertata rapi dan antisipasi yang begitu menjulang. semua luput. aku terkoyak menjadi pelepah pohon pisang yang tumbang sehabis berbuah. orang lain yang menikmati apa yang telah aku hasilkan, dan aku hanya bisa tersenyum pahit melihat tubuhku tumbang membusuk seperti pohon pisang yang telah berbuah. tak ada satupun di dunia ini, pohon pisang yang ingin berbuah dua kali. semua usaha telah disempurnakan pada hasil yang luar biasa hanya berakhir pada kebusukan yang tertumbang. dan aku menyesal mengatakan pada dunia bahwa aku tak ingin berbuah lagi.

bersambung................

Selasa, 22 Maret 2016

Pelukan Gerimis

Mendung menggantung rapi di langit
ada sedempul cumbu yang lugu tertahan di sana
ada seraut wajah yang lupa melafalkan bait rindu
menengadah meminta awan menjelma sebagai sang puja

lalu gerimis tebal berwarna putih perak turun
perlahan setetes dua tetes airnya berhamburan berpelukan dengan tanah
membasahi rumput dan dedaunan yang sekarat
akupun lena dalam dekapannya

lambat laun gerimis pun tipis
langkahku tertatih-tatih mengejar sisa rindu
aku makin mengenal kesunyian yang hampir ketakutan
aku terlepas dari pelukan gerimis

saat gerimis telah usai
tangisanku pun tercabik hingga berkeping
semuanya menjadi rapuh diculik paksa tanpa jejak
menjamu detik yang masih memjadi teka-teki

Saat Bulan Mengatup

Sayang, ingat kita saat bulan mengatup?
kita saling meraba rindu di bawah angin yang berdesis
kita selalu bercerita tentang bidadari hati yang tak lelah meranjau
lalu kita berlari mencari mimpi

sayang, ingat kita saat bulan mengatup?
kita terjirat kata yang menikam
kita abai di tangan mereka dan terbuang
namun rindu kita mampu berjalan di atas santun kita

sayang, bulan kini sudah berpendar tak tersaput awan
biarlah tangan kita saling memuja
melihat bulan yang mengambang di mata kita tanpa mengerjap
menjaga rindu kita tetap abadi

Kekasihku sudah pergi

awan memgambang dibalik pintu langit mencari kata yang sudah lelah
kulihat engkau duduk di sana dengan senyum yang menguncup
ada tanya yang tersangkut lalu hilang seperti habis tertelan angin
kemanakah kekasihku pergi?
kemarin kita belajar tentang hidup dan cara mengail naifnya rindu
rindu yang pucat karena sukar memahami
rindu yang beku karena saling curiga
dan engkau hilang saat rindu kita mulai mengerti
membiarkannya mengapung lalu tenggelam
puingnya tersesat di dadaku dan meronta mencari jalan pulang
kemanakah kekasihku pergi?
bintang sudah lelah bercerita tentang kita
lalu jauh di atas gerbang langit kulihat kau dengan air mata yang perih lalu menggenang
makin lama makin pudar...jauh....lalu lenyap
sementara hening yang mulai rapuh menyudutkanku
aku menunduk dan terus mengais isakan yang abadi
cintaku belum klimaks namun kekasihku sudah pergi

Memoir

Malam baru saja terlepas dari pelukam sang mentari
suara serangga bersahut-sahutan mewarnai malam yang dingin
saling bersenggama dan bercerita tentang cinta
adakah segumpal kasij yang menebal di hati kita seperti mereka?

Sabtu, 19 Maret 2016

Cerpen: Aku dan Ibuku

AKU DAN IBUKU
Aku tak pernah ingat lagi entah sejak kapan mulai akrab degan jalanan.  Tak heran bila anak-anak lain sibuk dengan pelajarannya di sekolah sementara aku sudah terbiasa dengan rokok ataupun minuman keras. Entah mendapatkannya dengan cara meminta, mengamen atau bahkan mencuri. Dunia begitu menyesakkan, pedih, dan sadis. Mau tidak mau aku harus bertahan dengan cara apapun untuk menyokong hidupku. Kelahiranku tidak diinginkan oleh ibuku. Akupun tak pernah tahu siapa yang menanamkan benih ke rahim ibuku. Wajar saja aku tak pernah mencicipi apa yang disebut kasih sayang. Ibuku hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Dia bukan sosok yang harus dihormati. Dia sangat menikmati berada di lembah prostitusi. Pekerjaan yang telah digelutinya sejak lama. Entah berapa banyak lelaki yang menjamah tubuhnya. Dan aku tak ingin tahu.Gunjingan orang-orang tentang aku dan ibuku sudah menjadi makananku sehari-hari. Ah! Peduli apa aku. Aku tidak inginmendramatisasi hidupku.
Suatu hari, tepatnya sabtu malam aku pulang ke rumah. Aku menggedor pintu. Lalu dibalik pintu itu terlihat ibuku dengan wajah kusut tanpa bedak dan gincu yang mendempul wajahnya. Biasanya jam segini dia telah siap memarkir tubuhnya pada laki-laki nakal. Malam ini dia hanya mengenakan daster, dan rambutnya di cepol acak-acakan Akupun masuk rumah lalu menghempaskan letihku di atas kursi kayu setelah seharian bergumul dengan debu dan asap jalanan. Aku melihat tatapan dingin ibuku dari sudut matanya yang lancip itu. Tiba-tiba saja dia memelukku erat, namun aku segera melepaskan pelukannya. Aku tak ingin lama-lama terhanyut dalam dekapan wanita itu. 
Akhirnya kamu pulang nak” Ibuku memulai percakapan.Baru kali ini kulihat dia mengumbar senyum tulusnya. Dengan acuh tak acuh aku bangkit dari kursi lalu kulemparkan pandanganku ke luar jendela. Pertanyaan ibuku sedikit tak ku gubris. Tapi karena terpaksa aku menjawab saja sekenaku.
“Malam ini tiba-tiba aku ingin merasakan tidur di kasur” Sambil melihat ke arah ibuku dengan senyum yang sinis. 
“Biasanya saat aku pulang, Ibu sudah tidak ada di rumah?Sindirku.
Ibuku hanya diam. Tak ada respon yang keluar dari mulutnya. Kulihat wajahnya begitu pucat di bawah sorotan cahaya lampu. Malam yang begitu pekat. Tiba-tiba aku merasa kasihan padanya. Ah perasaan apa ini. Bukankah selama ini aku selalu mengabaikannya? Aku membencinya meskipun dia pernah meminta maaf padaku karena telah mencampakkanku. Rasa sakit yang sudah menusuk hatiku begitu telak membuat aku tak sudi menerima permintaan maafnya. Bahkan aku tak ingin menganggapnya sebagai Ibuku. Seharusnya aku tak pulang ke rumah. Tapi entahlah, malam ini seperti ada sesuatu yang menarikku pulang. Dalam heningku aku menelanjangi seluruh isi rumah. Tak ada yang berubah. Tatapanku kembali berhenti pada sosok ibuku. Sekarang dia duduk di kursi dan masih saja khusyuk dengan diamnya. Aku penat dengan sepi yang terus saja menyengat. 
Sebenarnya aku telah berusaha melupakan catatan buruk ibuku. Tapi semua itu malah membuat beban dalam hatiku semakin bertambah. Ibuku seorang pelacur, sementara aku anaknya yang selama ini hidupnya di jalanan. Diam-diam aku kagum dengan semangat ibuku yang tak pernah lekang. Mungkin jiwa itulah yang melekat dalam tubuhku yang telah dialiri darah dagingnya.  Meskipun dia seorang pelacur, dia wanita yang tak pernah menyerah. Lupakan saja! Aku tak lagi menangisi nasib ini!
Malam semakin pekat, namun tak ada perbincangan antara aku dan ibuTanpa sepatah kata ibuku lalu beranjak dari kursi menuju kamarnya. 
“Ibu sedang sakit?” Pertanyaan itu spontan keluar dari mulutku. 
Ibu menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku. Matanya begitu cekung. Wajahnya semakin pucat seperti kehabisan darah. Bibirnya agak kebiruanAda sorotan kesedihan dibalik wajahnya. Kulihat air matanya bergulir membasahi pipinya. Air mata itu memendar perasaanku. Duka apakah yang sedang dialaminya? Bukankah ibu sudah merasa bahagia dengan hidupnya? Suasana mulai kosong lagi. Air mata ibu berhenti merembes. Tinggalah aku yang masih berdiri dengan kebingungan dan masih bertahan dengan sikap acuhku. Karena tak ada respon dariku, ibu akhirnya membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju kamar. Dalam sekejap dia telah lenyap dalam pandangan mataku. Ibu! Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Sikap acuhku membuat aku semakin penasaran. Aku tak bisa berhenti berpikir. Semakin aku membenci ibu semakin dalam rasa keingintahuanku padanya. Lagi-lagi aku merasakan kengerian., miris yang membuncah. 
Sore itu senja merambat lambat. Aku masih ingin di rumah beberapa hari lagi. Mungkin ini untuk terakhir kalinya aku pulang ke rumah. Tekadku sudah bulat untuk pergi jauh meninggalkan ibu. Sejak siang tadi aku tak melihat ibu keluar dari kamarnya. Namun pagi tadi aku masih sempat melihatnya menyiapkan sarapan untukku meskipun tak kusentuh. Aku tak berselera makan. Makanan-makanan itu sekedar menjadi penghias meja makan. Kenapa baru kali ini dia begitu memperhatikanku? Selama ini aku tak pernah merasakan hangat tangan dan dekapannya. Dia terlalu asik dengan dunianya hingga aku tak pernah diperhatikan. Pada dasarnya dia memberikan kesenangan sesaat padaku. dia memberikan semua yang aku butuhkan. Tapi sebenarnya aku hanya butuh kasih sayang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk hidup di jalanan. 
Kemanakah ibu? Sampai sekarang dia tak tampak di pelupuk mataku. Aku yang sedari tadi tidak beranjak kemana-mana mulai melangkahkan kaki menuju dapur. Tak kudapati ibu di sana. Karena seharian belum menyeruput kopi, aku menyalakan kompor dan mendidihkan air. Segelas kopi siap untuk kunikmati. Kubawa ke ruang tamu. Saat aku melewati kamar ibu, aku merasa penasaran. Kamarnya tertutup. Akankah ibu di dalam sana. Atau mungkin dia sedang kewalahan melayani laki-laki hidung belang? Tapi sejauh ini aku tak melihat ada tamu datang ke rumah. Atau mungkin tadi saat aku masih di kamar, tamu itu diam-diam menuju kamar ibuku? Atau bisa jadi tamu itu sudah terbiasa kesini lalu dengan seenaknya saja dia masuk rumah tanpa permisi? Ratusan pertanyaan mengambang di benakku.Kuacuhkan pertanyaan-pertanyaan itu dan aku memulai menyeruput kopi dan menyulut rokok.
Kuberanikan diri mengetuk pintu kamar ibuku. Terkutuk saja, mengapa aku begitu khawatir. Terang saja aku sangat menyesal mengapa darah wanita itu harus mengalir ke tubuhku. mengapa aku harus menjadi bagian darinya. 
“Ibu di dalam kamar?” ku ketuk pintu berkali-kali namun tak ada sahutan. Perlahan-lahan ku sentuh pegangan pintu. Ternyata tidak terkunci. Tampaklah ibu sedang berbaring. Wajahnya lebih pucat dari semalam. Bibirnya semakin membiru. Ada rasa iba yang sangat dalam menyeruak hatiku. Aku sepertinya tidak tega bila harus meninggalkan dan membiarkannya dalam keadaan seperti ini. Kudekati dia dan duduk disebelah tempat tidurnya. Ibu seperti sedang sakit parah. Selama ini dia hidup sendirianSementara malam mulai menilik ranting-ranting pepohonan di luar sana. Dari kaca jendela terlihat dengan jelas gelap yang mengantar orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing. 
“Ibu sebaiknya aku bawa ke dokter saja” 
“Tidak perlu anakku. Ibu sudah terbiasa dengan ini. Sebentar lagi pasti sembuh” Ibuku menolak ajakanku. 
Lalu selama ibu sakit, laki-laki hidung belang itu masih mau membeli ibu? Ucapku dengan kasar karena rasa dongkolku yang tidak bisa kutahan.
Ibu tidak menjawab. Dia menghela napas panjang. Ibu kembali menggulirkan air matanya. Entah menahan sakit atau sedih karena kata-kataku yang telah menghujamnya. Pada kenyataannya dia memang seorang pelacur. Untuk apa dia sakit hati. Aku kira dia bukanlah orang yang lemah. Kulihat air matanya terus bergulir. Dia kembali menarik napas panjang.
“Ibu sudah lama meninggalkan pekerjaan itu nak. Semenjak kau pergi dari rumah hati ibu seperti tercabik-cabik. Ibu kehilangan bagian dari hidup ibu nak. Ibu sadar, bahwa merawatmu dengan cara baik-baik itu lebih penting daripada mengutamakan kebutuhan pribadi ibu sendiri dengan terus terjebak di ladang prostitusi itu”  Dia kembali terisak lalu meneruskan kalimatnya.
“Mungkin inilah balasan buat ibu atas dosa-dosa yang ibu lakukan selama ini”
Tulangku seperti berhasil diloloskan dari tubuhnya. Aku lemas terkulai mendengar penuturan ibu. Aku menyesal selama ini terlalu menyalahkannya. Tekadku meninggalkan ibu akhirnya retak hanya menyisakan puing-puing yang tak dapat disatukan kembali. Bulir-bulir air mataku mengembang jatuh menyusur di tubuh ibu. Aku mendekapnya erat, namun tak ada respon sedikitpun dari ibu. Aku semakin takut. Ku periksa detak jantungnya, nadinya.
Semua sudah terlambat. Naluri seorang ibu kepada anaknya tidak pernah dapat berubah. Mungkin aku terlalu muda untuk memahami apa yang ibu ingin persembahkan kepadaku. Aku hanya mampu memahami sisi gelap dari ibuku.