Kamis, 04 Agustus 2016

Alienasi

Gelap masih setia merunduk pada pangkal keramaian
makin diam, makin khusyuk pada sembahyangnya
pada ujung pengasingan aku tak mampu lagi menjamah tanganmu
jalanan sepi yang terus menghujatku menggores sisa-sisa luka kemarin
mimpi, cinta, mereka, bahkan dunia sudah tak mengenalku

dari ribuan musim pengembaraanku
hujan adalah barisan air mata
matahari terbit dari ufuk lukaku dan padam di akhir tangisku
dan kau berdiri menyanyikan lagu "Penjara"

sementara aku sudah hampir roboh mengejar penggalan-penggalan hidup
tangisanku abai
jatuh menjadi bulir-bulir duka yang merinai

di ruang ini sudah terkubur ribuan matamu
puisi-puisi yang tak berhasrat mencumbui air mataku
seperti biasa, pada senja yang papa
aku bersalam cemas pada ngilu malam yang selalu mengasingkan
kubakar dupandan do'a dengan bara rindu yang hening
adakah yang kasihan pada kepulangan yang purnama?
tuhanpun takkan menunjukkannya padaku
pada sunyi aku mengusap air mata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar